Perbuatan baik seturut atau sesuai dengan standar kebaikan Allah yang dapat dinikmati oleh Allah merupakan sesuatu yang berharga. Di dalam Alkitab ditunjukkan beberapa kali kebenaran ini. Seperti misalnya di Matius 25, perbuatan baik seseorang terhadap orang yang membutuhkan pertolongan, Tuhan ingat. Kalau Tuhan ingat, artinya Tuhan catat. Di Perjanjian Lama ditulis bahwa air mata orang benar tersimpan kirbat Tuhan; kirbat adalah wadah untuk menyimpan anggur. Juga di dalam Wahyu 14:13 firman Tuhan mengatakan, “Dan aku mendengar suara dari surga berkata, tuliskan: Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini, ‘sungguh’ kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Di kekekalan, perbuatan mereka tidak dihapus, tetapi tetap menyertai mereka. Jadi, perbuatan baik menurut Tuhan yang dapat dinikmati-Nya pasti diingat dan dicatat oleh Tuhan. Di dalam Alkitab, kita menemukan kisah hidup dari orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Dan itu menjadi catatan abadi yang pasti diingat Tuhan. Sedangkan orang-orang jahat, walaupun di Alkitab juga dicatat perilaku mereka, suatu hari catatannya pasti dibuang. Kalau hari ini kita masih bisa membaca catatan atau rekam jejak dari orang-orang jahat yang ditulis di Alkitab—seperti misalnya perbuatan Kain yang membunuh adiknya, ketidaksetiaan Raja Saul, pengkhianatan Yudas, dan lain sebagainya—itu dicatat karena memang berguna untuk kita, agar kita tidak melakukan perbuatan yang sama seperti yang mereka lakukan.

Tetapi yang jelas, catatan hidup orang-orang jahat akan mengikuti mereka masuk ke dalam api kekal, dihilangkan, dibinasakan bersama dengan mereka yang terpisah dari hadirat Allah. Dan sebaliknya, mereka yang disebut dalam firman Tuhan sebagai “orang yang mati dalam Tuhan”—yaitu orang yang setia kepada Tuhan—maka perbuatan mereka menyertai mereka. Tentu hal itu menjadi catatan abadi di kekekalan. Kita membaca di dalam Alkitab, catatan atau jejak rekam orang-orang benar ini yang nantinya akan tetap abadi dihargai oleh Tuhan. Pernahkah kita memikirkan, merenungkan dan memperkarakan bagaimana catatan hidup kita di kekekalan? Firman Tuhan mengatakan, “satu kata yang kita ucapkan, harus kita pertanggungjawabkan.” Sebab semua tercatat. Apakah tercatat di dalam kitab kehidupan dan kita akan masuk ke dalam Kerajaan Surga kelak, atau tercatat nanti di api kekal dan dibinasakan?

Kebenaran ini tidak boleh kita anggap remeh. Setiap kita memiliki catatan hidup di kekekalan, dan kiranya ini menggetarkan jiwa kita, supaya kita tidak sembarangan hidup. Kalau satu kata yang kita ucapkan harus kita pertanggungjawabkan, apalagi setiap kalimat, apalagi setiap narasi, apalagi setiap perilaku hidup kita. Hari ini kita mulai benar-benar memperhatikan hal ini, sejak sekarang, yaitu sejak kita mulai mendengar atau membaca kebenaran ini. Kita harus mulai memperhatikan setiap kata yang kita ucapkan, setiap gerak, pikiran, dan perasaan kita dan setiap tindakan kita, karena semua itu tercatat. Apakah menyertai kita di kemuliaan agar menjadi catatan atau goresan yang kekal yang berkenan di hadapan Allah dan layak untuk dilestarikan di keabadian, atau menjadi catatan yang akan dibuang ke dalam api kekal karena tidak layak untuk dikenang.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk memperhatikan hal ini. Urusan dengan Tuhan harus merupakan urusan satu-satunya yang penting. Tidak ada hal yang lebih penting dari hal ini. Tuhan menciptakan kita bukan untuk kesenangan kita, melainkan untuk kemuliaan-Nya. Dan kita mau menghasilkan karya agung, karya mulia yaitu sebuah catatan atau buku yang memuat perasaan Allah yang disenangkan. Yang memuat tindakan dan perbuatan yang menghormati Allah dan yang mencintai Tuhan. Tindakan-tindakan dan perbuatan yang bernilai bukan saja di mata para malaikat dan para penghuni surga yang kudus, tapi juga di mata Tuhan.