Ayat 9, “ Dan Aku berkata kepadamu: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Ingat, kita sedang menyongsong kekekalan yang dahsyat, kita membangun persahabatan dengan Tuhan menggunakan mamon yang tidak jujur (Yunani. Mamonas ). Mamon yang tidak jujur ini adalah segala sesuatu yang bisa menipu kita. Dan kekayaan dunia ini bisa menipu. Padahal, kekayaan dipandang sebagai dasar yang kokoh, yang bisa memikul segala masalah. Memang, uang bisa memikul segala masalah hari ini. Uang bisa membawa kita pergi ke manapun, tapi uang tidak bisa membawa kita ke surga. Uang bisa mengatur siapa pun di bumi, tetapi uang tidak bisa mengatur Tuhan.

Ikat persahabatan dengan Tuhan, tapi jangan ikat persahabatan dengan mamon karena semua kekuatan materi akan lenyap seperti uap. Bukan tidak boleh punya uang banyak. Justru, bekerjalah untuk punya uang sebanyak-banyaknya, agar kita dapat menopang banyak orang. Tapi uang tidak bisa menjadi tempat bergantung kita, tidak bisa menjadi pelabuhan hidup kita. Pelabuhan hidup kita adalah Tuhan. Maka kita harus punya langkah-langkah konkret bersahabat dengan Tuhan untuk menuai kekekalan.

Pertanyaannya, sudahkah kita membuat ikatan atau untaian persahabatan dengan Tuhan secara konkret hari ini? Mari kita buktikan tindakan nyata dalam menjalin persahabatan dengan Tuhan. Kita gunakan apa pun yang bersifat sementara di bumi ini untuk menjadi alat bersahabat dengan Tuhan. Waktu, tenaga, harta, talenta-talenta, prestasi studi, prestasi karier kita, semua bisa kita gunakan untuk Tuhan. Kita tidak akan pernah menyesal, ketika kita menggunakan apa pun yang ada pada kita sekarang ini menjadi alat untuk bersahabat dengan Allah. Pasti yang kita tabur akan kita tuai.

Proyeksi kita bukan lagi menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani atau hal-hal fana dunia, melainkan sudah menjangkau kekekalan. Semua yang kita miliki, suatu hari harus kita lepas. Tidak ada yang tersisa di dalam genggam kita. Namun, semua yang kita miliki hari ini, jika kita gunakan untuk persahabatan dengan Allah, itu akan menjadi harta abadi.

Ayat 10, “ Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Dalam konteks ini, perkara kecil adalah harta materi. Kalau orang gagal dalam bersikap terhadap harta dunia ini, maka dia gagal bersahabat dengan Allah. Dan kenyataannya, banyak orang gagal bersikap terhadap mamon yang tidak jujur ini. Karena itulah Alkitab berkata, “akar segala kejahatan adalah cinta uang.” Sejujurnya, tidak mudah menaklukkan hati kita terhadap masalah materi.

Ayat 11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan memercayakan kepadamu harta yang sebenarnya?”

Kata asli “harta yang sesungguhnya” adalah alithenon; yang berarti kebenaran ( truth ) . Jadi kalimat yang benar, “jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, kalau kamu masih materialistis, kamu tidak akan mengerti firman Tuhan atau kebenaran.” Itu maksudnya. Dan kalau orang tidak mengerti kebenaran, dia tidak setia dalam perkara kecil, dia tidak bisa berdamai dan membangun persahabatan dengan Allah. Bangunan berpikirnya salah atau rusak.

Ayat 12, “ Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? ”

‘Harta orang lain’ artinya ini hartanya Tuhan. Waktu kita menumpang di dunia, kita harus merasakan bahwa semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Sedangkan maksud dari ‘hartamu sendiri’ adalah apa yang akan kita terima nanti. Karena apa yang kita tuai nanti itulah harta kita. Tuhan mau sediakan kita harta kekal. Jadi kalau kita tidak mau menjadi miskin di kekekalan, kita harus mau miskin dulu di bumi. Maksudnya, kalaupun kita ada rumah bagus, banyak uang, namun kita harus berprinsip bahwa semua yang kita miliki adalah milik Tuhan bukan harta kita.

Kalau kita berbelas kasihan kepada orang sejak di dunia, Allah akan berbelas kasihan waktu kita menutup mata. Bahkan ketika kita ke surga, anak cucu kita yang masih hidup, dibelaskasihani Tuhan. Namun jika kita tidak berbelas kasihan kepada orang lain, kita tidak akan mendapat belas kasihan Tuhan di kekekalan.