Satu lembar hari kita itu berharga. Kita tidak bisa membelinya dengan uang, karena itu adalah anugerah. Dan Tuhan mau satu lembar hari kita, kita hargai. Yang terdiri dari potongan jam-jam yang berjumlah 24. Lalu terdiri dari potongan menit-menit, di mana setiap jam adalah 60 menit. Di mana dari menit ke menit kita memperhatikan setiap kata yang kita ucapkan, apalagi setiap kalimat, lebih lagi narasi. Dari menit ke menit, dari jam ke jam, kita serius menjaga hidup kita. Yang tentu nanti kalau sudah terbiasa menjaga, kita terbiasa dan menjadi tidak sulit. Semua yang baru dimulai, itu memang sulit. Tetapi lama-lama menjadi irama. Kesucian itu akan menjadi irama. Sama seperti orang main musik, kalau sedang baru belajar, itu sulit. Namun jika sudah bisa, akan mudah.
Satu hari itu berharga. Kita hargai hari ini, besok, lusa. Dan ketika Tuhan melihat catatan hidup kita indah, Tuhan berkata, “Lanjutkan di kekekalan.” Tetapi jikalau hari-hari hidup seseorang busuk, maka Tuhan berkata, “Hentikan. Buang ke Api Kekal!” Pertanyaannya, kira-kira hari hidup kita layak diteruskan di Rumah Bapa atau tidak? Setiap kita adalah manusia yang punya gejala-gejala jiwa yang sama. Kita pasti pernah melewati tahun-tahun di mana kita egosentris atau berpusat pada diri sendiri, “yang penting aku senang.” Tidak memedulikan catatan harian hidup kita.
Kalau sudah tidak peduli catatan harian, tidak peduli catatan mingguan, tidak peduli catatan bulanan, tidak peduli catatan tahunan, tidak peduli perjalanan hidup. Baru setelah mati, ketika menghadap takhta pengadilan Tuhan, baru menyesal. Itu sebabnya, sekarang kita mulai dari catatan harian dulu. Sejak kita buka mata, menit pertama, menit kedua, menit ketiga, jam pertama, jam kedua, dan seterusnya. Semua yang baru dilatih, baru dimulai, itu sulit. Lama-lama bisa. Banyak orang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin bisa suci, dan suci itu nanti di surga. Padahal, kesucian itu satu keniscayaan.
Renungkan kebenaran ini, bahwa satu hari itu tidak bisa kita beli menggunakan uang berapapun, tidak dapat kita beli. Kalau orang sakit parah, berapa pun uangnya dia habiskan supaya dia sembuh dan tidak mati. Jadi, satu hari kita hargai dengan cara mengisinya dengan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan Tuhan. Jangan ada perbuatan yang mendukakan hati Tuhan, hanya karena kita mau menyenangkan diri kita sendiri. Contoh sederhana, kalau seseorang bercinta dengan kekasihnya, surat cintanya disimpan, foto-fotonya disimpan. Percintaan kita dengan Tuhan, dicatat Tuhan di kekekalan.
Kesucian hidup kita merupakan kolaborasi perjalanan kita bersama dengan Tuhan, melalui Roh Kudus, dalam meniti hari hidup di mana Bapa disenangkan. Dan di dalamnya termuat kisah percintaan kita dengan Tuhan, menjadi catatan abadi. Ironis, di banyak tempat, kekristenan hanya menjadi agama yang dihiasi, diatributi dengan kebaktian, liturgi, dan segala budaya Kristen, yang itu tidak menyenangkan hati Allah. Tidak ada di situ sentuhan percintaan dengan Allah. Yang ada hanya liturgi di mana menjadi tempat orang mengaktualisasi diri dalam kehidupan beragama. Belum lagi soal penyalahgunaan kekuasaan gereja.
Tetapi kita diajar untuk memiliki kesadaran terhadap realitas Allah yang hidup, yang berperasaan, yang mengingini perjalanan bersama dengan kita, dan mencatat perjalanan itu di kekekalan. Maka mulailah mengisi hidup kita dari menit pertama, menit kedua, jam pertama, jam kedua, seterusnya dengan lukisan indah; perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati Allah. Sampai akhirnya Tuhan berkata, “Kisah hidup orang ini, lanjutkan di kekekalan.” Bagi siapapun yang masih hidup dalam dosa, berhenti berbuat dosa! Jangan kita berkata, “aman-aman.” Tuhan akan bongkar semua perbuatan kita. Lagipula kita tidak tahu kapan hari terakhir hidup kita.
Kita rindu seluruh anggota keluarga kita, memiliki Buku Kehidupan yang indah di Perpustakaan Tuhan. Maka, jangan binasakan pasangan kita dengan kelakuan kita yang buruk. Jangan binasakan anak-anak kita karena kita tidak bisa menjadi contoh bagi mereka. Di tengah-tengah dunia yang gelap, bagaimana mempertahankan kekudusan, memang berat. Namun jika kita memiliki konsistensi, ketekunan untuk membuktikan cinta kita kepada Tuhan, maka itu adalah kisah cinta kita kepada Tuhan.