Kita pasti pernah mendengar atau paling tidak sebagian kita mendengar, atau kita sendiri yang mengucapkan bahwa hidup adalah pilihan. Sejatinya, di balik kalimat itu secara implisit hendak dikemukakan bahwa manusia memiliki free will atau kehendak bebas. Dari kehendak bebas ini, manusia menentukan destiny -nya; takdirnya, keadaan hidupnya. Keadaan hidupnya di bumi, juga keadaan hidupnya di kekekalan. Keadaan hidup di bumi sering kali seakan-akan tidak bertalian dengan kekekalan. Tetapi sesungguhnya, keadaan hidup kita di bumi ini bertalian dengan kekekalan , terutama perilaku, kelakuan, etika atau manner. Pilihan ini bukan pilihan satu kali; bukan hanya seperti satu titik, melainkan sebuah garis panjang.

Hari demi hari kita harus memutuskan kita mau berperilaku baik atau tidak. Dan itu menentukan keadaan hidup kita di bumi ini. Kita akan sulit menemukan orang yang berkelakuan dan beretika baik, namun hidupnya sengsara atau dipermalukan. Bisa ada, tapi jarang. Menurut riset, etika atau kelakuan baik seseorang sangat berperan dalam menentukan keadaan hidup ekonomi, relasi, dan banyak aspek dalam hidup ini. Jadi hal ini benar-benar teruji dan bahkan terukur. Sebagai orang percaya, kita harus memperhatikan, apakah kita semakin menjadi sempurna seperti Bapa atau tidak, dan hal itu tergantung dari keputusan-keputusan kita setiap hari atau pilihan-pilihan kita.

Apakah kita makin mengenakan kodrat ilahi atau tidak—jika tidak, berarti masih terikat dengan manusia lama—itu tergantung keputusan dan pilihan kita di setiap harinya bahkan setiap saat. Perlu kita pahami bahwa anak-anak Allah yang dikatakan “lahir baru,” adalah mereka yang mengenakan kodrat ilahi, dan yang benar-benar telah menanggalkan manusia lama. Sehingga memiliki manusia baru yang terus-menerus dibaharui menurut kekudusan yang sesungguhnya. Namun kenyataan yang terjadi dalam hidup, hampir semua orang tidak menganggap bahwa itu adalah hal penting. Hampir semua orang tidak sadar bahwa pilihan-pilihan tersebut mengarahkan seseorang kepada satu tujuan atau satu titik.

Sehingga banyak orang yang bisa dikatakan ceroboh, tetapi mereka tidak menyadari kecerobohannya. Hidup ini adalah pilihan. Kita harus memilih antara gelap atau terang. Tidak ada opsi lain selain terang atau gelap; apakah Tuhan atau seteru-Nya, yaitu kuasa kegelapan; Kerajaan Surga atau kerajaan kegelapan. Dan ini adalah pilihan yang harus kita putuskan sedini mungkin atau secepat-cepatnya. Kemudian kita mengarahkan diri pada pilihan tersebut. Orang yang berada dalam keadaan tidak memilih, pada akhirnya akan tergiring ke arah yang salah. Banyak orang dibuat oleh kuasa kegelapan ada dalam satu keadaan pasif. Ini yang dinamakan sebagai pasivitas.

Kalau dalam lingkungan Kristen, seseorang dikatakan pasif bukan berarti dia tidak ke gereja, dia bisa ke gereja, dia bisa menjadi aktivis gereja, bahkan dia bisa menjadi pendeta, tetapi dia masih dalam keadaan tidak memilih. Namun biasanya orang-orang Kristen seperti ini merasa sudah memilih Tuhan, namun sejatinya mereka memilih Tuhan dengan ukuran yang tidak tepat. Sebenarnya, ini masih pasif. Siapa pun tentu tidak mungkin mau disebut sebagai memilih setan atau memilih neraka, mereka pasti mau disebut memilih Tuhan, memilih Kerajaan Surga. Tapi apakah ukuran yang mereka kenakan itu sudah benar dan tepat sebagai orang yang memilih Tuhan? Apakah keadaan hidup mereka sudah menunjukkan bahwa mereka benar-benar memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya?

Kedatangan kita ke gereja atau status kita sebagai aktivis jemaat bahkan pendeta, itu bukanlah ukuran bahwa kita sudah memilih Tuhan. Ironis, banyak orang Kristen yang dalam hal ini sebenarnya sesat. Merasa sudah memilih Tuhan, padahal belum. Karena banyak orang Kristen atau hampir semua orang Kristen takut untuk memilih Tuhan dan memenuhi syarat, ukuran atau kuota yang harus dipenuhi di dalam memilih Tuhan tersebut.