Di dalam khotbah di bukit—yang merupakan khotbah pertama Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus—yang terdapat di Matius 6:19-20, Tuhan Yesus sudah mengarahkan “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Jelas, harta di surga, bukan di bumi. Kontrasnya jelas. Lalu di Matius 6:24 dikatakan, “kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kalau kamu mengumpulkan harta di surga saja, baru tuanmu itu Tuhan. Tapi kalau kamu tidak sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan, kamu belum memenuhi kuota atau ukuran atau parameter yang ditetapkan sebagai anak-anak Allah. Maka kalau kita dalam keadaan pasivitas, kita menjadi tumpul, tidak tajam dan tidak menembus hadirat Tuhan.

Seumpama burung, kita tidak bisa terbang tinggi karena kita tidak melatih memiliki sayap untuk menghampiri Allah. Bisa-bisa kita tidak pernah menjadi rajawali. Kita hanya menjadi ayam yang mengais tanah mencari cacing, bukan rajawali yang terbang tinggi menuju kemuliaan Allah. Hal itu karena ikatan materialistis di dalam pikiran kita yang tidak pernah mampu kita lepaskan. Dan suatu hari, kita akan sangat menyesal ketika berhadapan dengan Tuhan, dan ternyata kita tidak layak bagi Tuhan. Maka, bertuhan kita itu bukan hanya pada waktu di gereja. Tapi justru ketika kita melewati hari-hari hidup kita di rumah, di tempat pekerjaan, dalam pergaulan bahkan di mana pun kita berada, dan dari menit ke menit, jam ke jam, di situlah kita mainkan kehidupan Kristen kita. Di situ liturgi kita. Liturgi di gereja bisa penuh dengan kepalsuan, kemunafikan atau bahkan kepura-puraan.

Dan ketika di gereja kita berkata, “Bapa, aku rindu selalu di hadirat-Mu,” sejujurnya, kita belum memiliki kerinduan, itu bohong. Mungkin Tuhan masih maklum sekarang. Tapi kalau kita terus-menerus seperti itu, Tuhan muak. Kemudian mungkin kita lanjut berkata, “ Pisahkan diriku dari dunia ini agar ku layak tinggal di hadirat-Mu.” Sejatinya, kita tidak pernah belajar memisahkan diri dari dunia. Baca Alkitab juga kadang-kadang, jangan-jangan tidak pernah. Mendengar khotbah juga tidak serius, lalu bagaimana bisa memahami atau mengerti kehendak-Nya. Ditambah lagi, tidak mempunyai waktu doa pribadi untuk menjumpai Tuhan. Tidak mungkin orang seperti ini merindukan untuk bertemu Tuhan. Biasanya, orang seperti ini masih bergaul akrab dengan orang-orang yang tidak takut Tuhan. Apalagi kalau yang masih memiliki pacar dengan orang yang tidak seiman; itu berkhianat. Dan itu menjijikkan di mata Tuhan.

Kadang kita bisa salah, bisa jatuh dalam dosa, tapi kita harus segera bertobat. Dan menakjubkannya, kalau kita bertobat setelah berbuat dosa, Tuhan melupakan dan berurusan kita kembali, seperti seakan-akan kita tidak melakukan dosa itu. Akan tetapi jangan main-main. Jangan terus kita ulang-ulang lagi dosa itu. Nanti kita dihajar oleh Tuhan. Jadi walau kita rajin ke gereja, namun kita tidak memainkan kekristenan kita setiap hari, maka kita tidak dikenal oleh Tuhan. Dan itu mengerikan. Tetapi tidak banyak orang yang memiliki perasaan krisis terhadap keadaannya di hadapan Allah. Sebab banyak krisis lain yang menenggelamkan hidupnya. Padahal Tuhan berfirman, “jangan takut terhadap apa yang dapat membunuh tubuh, akan tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa.”

Maka, jangan main-main, jangan tidak menghormati Tuhan, dan jangan lawan Tuhan. Sejujurnya, dari cara hidup kita setiap hari, sebenarnya kita tidak atau kurang menghormati Tuhan dan bahkan masih melawan Tuhan. Kita harus menyadari dan bertobat. Jangan kita hanya setuju dengan Renungan Harian atau khotbah dari pendeta, tapi kita tidak memberi respons yang positif. Celaka kita! Kalau tubuh kita saja yang mati, tidak apa-apa. Namun kalau kita mengalami kematian kedua, terpisah dari Allah, itu mengerikan.