TEMA : “Yesus Lahir Untuk Kita”
BACAAN ALKITAB: Lukas 2:1-7
Hari Natal yang dikenang di seluruh dunia sudah semakin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana. Berkenaan dengan menyambut Natal banyak orang berlomba-lomba mempersiapkan segala yang kelihatan secara fisik, dekorasi, bunga, pohon natal dan aksesoris lainnya. Mereka mengabaikan persiapan kehidupan spiritualitasnya, imannya, dan hatinya untuk menerima Yesus lahir dan memperbaharui kehidupan dan hatinya. Di beberapa supermall menghadirkan ´magic´ Christmas dengan gambaran peri bertongkat-bintang gaib serta bermacam-macam model persiapan yang dilakukan dengan harga yang mahal. Gambaran Natal yang serba mewah dan meriah dipamerkan di seluruh penjuru kehidupan manusia. Natal bukan lagi merupakan kekuatan iman yang menobatkan tetapi sekedar perayaan yang memamerkan gengsi dan kehormatan.
Firman Tuhan saat ini menceritakan tentang kelahiran bayi Yesus, diawali dengan sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Sensus tersebut bertujuan dengan urusan pajak dan wajib militer. Perintah ini ditanggapi positif sebagai wujud ketaatan pada pemerintah, maka Jusuf dan Maria berjalan dari Nazaret ke Betlehem kira-kira 120 km. Sampai di sana tibalah Maria untuk melahirkan, diceritakan bahwa Anak itu dibaringkan dipalungan (tempat makanan kambing domba). Kelahiran-Nya ditolak dunia pada waktu itu yang hanya memikirkan ekonomi keluarga, menjamu yang berduit dan menolak yang miskin dan papah. Sehingga Ia lahir di sebuah kandang karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan, (ayat.1-7).
Hari lahir-Nya diwarnai dengan ketaatan dalam perjalanan panjang dan kesederhanaan dalam sebuah kandang. Kelahiran-Nya tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal dimana kasih dan damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi yang berarti dan kasih yang tanpa batas dianugerahkan kepada manusia. https://www.profitablecpmratenetwork.com/cjg7awakv?key=d7089fc8c4a472af7fcbef8089abf152 ADVERTISEMENT
Konteks kita ini, banyak orang percaya berteriak di masa kesesakan dan penderitaan, mereka bergumul dan bertanya “berapa lama lagi Tuhan, Engkau lupa untuk bermurah hati?” Kami membaca janji-janji yang diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Engkau, Tuhan lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji-Nya itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung yang dibuat ini membuktikan bahwa Allah telah memelihara firman-Nya. Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang agung tentang Allah yang tidak pernah berubah dalam rencana-Nya. Firman Allah itu pasti, mutlak dan kekal.
Memahami makna Natal bukan hal sederhana. Tetapi fenomena Natal, itulah yang hidup sekarang. Apa beda makna dengan fenomena? Istilah makna adalah memahami kedalaman daripada Natal, memahami pesan yang ingin Tuhan sampaikan. Sementara fenomena adalah sebuah gejala yang ditangkap oleh indera manusia lalu dijadikan semacam satu ukuran. Fenomena menyebabkan seluruh atribut Natal mewarnai dan menguasai, bahkan menenggelamkan makna Natal, sehingga boleh dikatakan, gereja kehilangan arah itu. Gereja mengidentikkan Natal dengan damai, artinya tidak ada perang, tidak ada kesulitan, tidak ada pertikaian. Gereja mengidentikkan Natal dengan sukacita, artinya bahwa apa yang kita mau, ada. Gereja mengidentikkan Natal dengan kebahagiaan, artinya seluruhnya menjadi lain dari hari yang lain. Semua kesalahpahaman ini sudah berlanjut, sehingga Natal lebih banyak menjadi penantian para bisnismen, industri-industri, daripada penantian akan Tuhan. Gereja pun terjerumus ke dalam perkara yang lebih menakutkan lagi. Natal identik dengan semacam showbiz.
Firman Tuhan saat ini mengajak kita untuk benar-benar mengenali berita kesukaan akan kelahiran Juruselamat, Yesus lahir untuk kita, tujuannya untuk mendamaikan kita dengan Sang Pencipta; menghadirkan damai sejahtera bagi manusia dan untuk menyelamatkan kita. Perayaan yang meriah di gedung gereja, di tempat-tempat yang megah dan lebih lagi di ballroom hotel yang eksklusif sudah jauh berbeda dengan kondisi palungan di malam Natal pertama yang dihadiri para gembala yang sederhana.
Malam Natal saat ini adalah momentum, saat dimana kita mengevaluasi kehidupan, kita berdiam dan bertanya. Malam ini adalah kesempatan bagi kita untuk merenungkan kembali perjalanan hidup yang sudah kita ukir dan baktikan melalui, kerja, pelayanan dan pengabdian. Jadi, bukan sekedar untuk merasakan kasih Tuhan di dalam hidup kita, tetapi juga untuk menengok ke belakang, mencermati apakah kehidupan kita selama satu tahun ini adalah kehidupan yang berusaha melakukan Firman dan untuk menyenangkan Tuhan? Ataukah kehidupan yang hanya berorientasi pada diri sendiri, hanya memuaskan hati kita dan orang lain? Jika kita memang mau menyenangkan Tuhan, dalam susah pun kita merasa bahagia.
Oleh karena itu, penting untuk kita pikirkan sikap sejati bagaimana menyikapi Natal itu. Natal harus kita sikapi di dalam kesungguhan yang penuh, dan menangkap inti-sarinya. Jangan terjebak kulit atau fenomena. Natal mengajak kita untuk merenung diri dan memaknai dalam kerendahan hati sebagai hamba agar damai dan kasih-Nya lewat natal menjadi milik semua orang. Natal adalah penggenapan janji yang sudah dikatakan nun jauh sebelumnya, dan tercatat di Alkitab. Maka ini boleh menjadi peringatan penting bagi kita bagaimana hidup takut akan Dia, dan melakukan kehendak-Nya.
Malam ini, kita yang akan merayakan Natal marilah kita berkomitmen untuk mengembalikan hakekat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapnya kerlap-kerlip lampu dan dekorasi yang mewah dan mahal. Ketaatan iman dan kesederhanaan yang telah didemonstrasikan oleh Tuhan Yesus itulah yang harus kita maknai dan nyatakan dalam sikap dan tindakan untuk menyambut Sang Juruselamat yang telah lahir untuk kita supaya kita lahir didalam Dia dengan memiliki hati dan roh yang baru dalam menyambut dan merayakan Natal. Amin!