Tuhan berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan hukum yang sama dengan itu, kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Orang-orang yang tidak mempunyai Tuhan Yesus, yang tidak mengenal Allah, namun yang tidak melukai sesamanya, akan dimasukkan sebagai anggota masyarakat. Akan tetapi mereka tidak menjadi anggota keluarga Kerajaan yang dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Kita adalah orang-orang yang dirancang untuk menjadi kekasih Tuhan. Itu sebabnya, kita tidak boleh hanya menjadi orang baik, melainkan harus menjadi orang yang sempurna, yang tidak terikat dengan dunia ini. Nanti di surga mereka baru tahu ternyata ada Allah yang hidup yang bisa menjadi kekasih jiwa.
Jangan duniawi! Kita boleh kaya, namun jangan terikat dengan kekayaan atau kehormatan. Tidak perlu keren-kerenan; harus mempunyai pakaian ini dan itu, mobil merk tertentu, rumah di lingkungan tertentu, perhiasan, barang branded dan lainnya. Kita bukan anak-anak Kerajaan Surga yang layak masuk anggota keluarga Kerajaan dengan sikap hati seperti itu. Ketergantungan kita kepada Tuhan tidak menghilangkan kemerdekaan dan kebahagiaan manusia. Justru kemerdekaan manusia terletak ketika manusia menggantungkan suasana sukacita dan kebahagiaannya pada Tuhan. Sejujurnya, jenis kemerdekaan macam apa yang kita harapkan?
Kalau kemerdekaan cara Lucifer, dia bebas dengan apa yang dia ingini. Dia mau lakukan apa, dia lakukan; apa yang dia ingini, diperbuatnya; apa yang dia rasa miliki, dia kuasai. Itu adalah jenis kemerdekaan yang salah! Kemerdekaan yang sejati adalah keterikatan dengan Tuhan. Sejatinya, semakin kita terikat dengan Tuhan, semakin kita merdeka. Semakin kita tidak terikat dengan Tuhan, semakin kita diperbudak. Namun tidak banyak orang terikat dengan Tuhan, dan sebaliknya, lebih banyak yang terikat dengan dunia. Masalahnya adalah, jangan sampai kita tiba di titik tidak balik— point of no return . Kalau orang terus bertumbuh dalam Tuhan sampai titik tertentu, dia tidak bisa balik ke dunia.
Akan tetapi, ada titik tidak balik dari dunia! Di mana mereka yang dalam percintaan dunia, sampai tidak bisa balik lagi ke Tuhan; dia akan terus terikat ke dunia. Jangan kita pikir ini hanya dialami oleh orang-orang di luar gereja. Justru orang-orang yang di dalam gereja banyak yang seperti ini; aktivis, bahkan pendeta! Tanpa disadari, mereka makin canggih munafik, canggih berakting saja. Banyak kekasih dalam hati kita yang membuat kita mengkhianati Tuhan. Sekarang, Tuhan harus menjadi kebahagiaan kita satu-satunya. Pasti ada di antara kita yang dikhianati oleh pasangannya, jangan sakit hati! Lupakan!
Jangan memberhalakan sesuatu sampai kita gagal menjadi kekasih Tuhan. Jadi, periksa diri kita masing-masing, sebab jangan-jangan kita sedang menuju ke titik tidak balik dunia! Ini bahaya sekali! Ironis, banyak orang tidak mengerti, tidak mau tahu terutama bagi yang sudah terlalu lama hanyut arus dunia. Di Matius 19:16-25, ada seseorang yang berbuat baik namun dia tidak bisa ikut Tuhan Yesus ketika dia tahu syarat untuk mendapat hidup yang berkualitas tersebut. Orang ini pergi dengan sedih, kata Alkitab, sebab banyak hartanya. Dia sudah terpasung di situ. Dia tidak berani hidup di dalam Tuhan.
Orang yang takut mati berarti ia takut hidup bagi Tuhan, takut hidup secara benar. Orang yang sudah mati dari dunia dan kedagingannya berarti dia berani hidup untuk Tuhan dan berani mati secara jasmani. Memang, proses kematian ini setengah mati. Untuk ini, seseorang harus menemukan Allah, bukan beragama saja! Sebab kita membutuhkan Tuhan yang mengisi kekosongan jiwa kita ini.