Selanjutnya, kita mendapati bahwa si Sulung memprotes. Ia merasa telah menjadi anak yang baik, namun tidak pernah diperlakukan seperti adiknya yang justru telah menghabiskan uang ayahnya. Tetapi sang bapak menjawab, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Mungkin saat ini kita masih berada dalam kekurangan dan seakan-akan Tuhan tidak peduli. Namun, jangan berpikir demikian. Sesungguhnya, apa yang dimiliki oleh Bapa juga menjadi milik kita. Akan tetapi, Bapa tahu kapan Ia harus memberikannya, dan Ia juga mengerti seberapa banyak yang seharusnya diberikan. Sebab, Bapa tidak mungkin memberikan sesuatu yang membahayakan keselamatan kita.
Permasalahannya, si Sulung ternyata tidak seperasaan dengan ayahnya. Sebuah ironi. Kita dapat belajar dari dua kegagalan besar ini. Pertama, dari si Bungsu: jangan meninggalkan rumah, jangan meninggalkan Betlehem. Selanjutnya, mari kita terus bertumbuh agar dapat seperasaan dengan Tuhan. Aduh, luar biasa—ya, jika Bapa bersukacita, kita pun bersukacita; jika Bapa menangis, kita ikut menangis bersama-Nya.
Kadang-kadang kita tidak dapat memahami mengapa ada orang yang rajin ke gereja—bahkan aktif melayani—tetapi masih pelit. Mengapa ia tidak seperasaan dengan Tuhan? Jika seseorang benar-benar melekat pada Tuhan, semestinya ia akan memiliki perasaan yang selaras dengan Tuhan. Seharusnya si Sulung membahagiakan ayahnya dengan turut menyambut kepulangan adiknya. Namun, ternyata ia tidak melakukan hal itu.
Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Jadi, dalam cerita anak yang hilang, jika ditanya: berapa yang hilang? Jawabannya adalah dua—bukan satu, melainkan dua. Satu hilang di luar kandang, dan yang lainnya hilang di dalam kandang. Keduanya sama-sama hilang. Memang si Bungsu bertindak brutal. Tetapi si Sulung tidak kalah menyakitkannya—ia juga mempermalukan ayahnya. Ia mengucapkan kata-kata yang tidak pantas dan menyalahkan ayahnya. Ia tidak memiliki kebijaksanaan seperti yang dimiliki oleh ayahnya.
Di sisi lain, si Bungsu akhirnya sadar. Ia menyadari keadaannya dan memutuskan untuk kembali. “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa.” Pertama-tama, ia menyadari bahwa ia telah berdosa kepada surga—yang dalam hal ini menunjuk kepada Tuhan—dan yang kedua, kepada sesama, yakni ayahnya.
Perhatikan bagaimana Alkitab mencatat: ketika si Bungsu masih jauh, ayahnya telah melihatnya. Ini menyiratkan suatu pesan. Sang ayah pasti senantiasa menanti. Ia tetap menatap ke kejauhan, berjaga-jaga kalau-kalau anaknya pulang. Jika ia tidak mengasihi anak itu, tentu ia tidak akan mengharapkannya kembali. Ia akan menutup mata terhadap kemungkinan kembalinya sang anak. Namun dari kejauhan, ayahnya telah melihat, lalu ia berlari mendapatkan anak itu, merangkul, dan mencium dia.
Lalu si anak berkata, “Aku tidak layak menjadi anak Bapak. Menjadi hamba pun tidak apa-apa, yang penting aku ada di rumah ini.” Itu luar biasa. Kalaupun ia tidak dikembalikan pada posisinya sebagai anak, ia rela. Kalaupun ia tidak lagi menerima fasilitas kekayaan dari ayahnya, asalkan ia memiliki ayah—itu sudah cukup baginya. Pertanyaannya, apakah kita menangis ketika Tuhan menangis? Apakah kita turut bersukacita bersama Tuhan ketika kita melihat ada jiwa-jiwa yang dimenangkan dan diselamatkan? Bagaimana cara kita melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan?
Ingat! Yang pertama : jangan berbuat dosa . Yang kedua : buatlah orang berubah sebanyak mungkin, dan jangan lambat. Sejujurnya, tidak sedikit pendeta yang sebenarnya “terhilang” di dalam gereja. Mereka tidak memiliki perasaan Tuhan. Banyak orang yang rajin ke gereja, pandai memuji dan menyembah Tuhan dengan bibirnya, tetapi hatinya tidak seiring dengan Allah Bapa. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sepikiran dan seperasaan dengan Bapa?