Dalam kehidupan kita masing-masing, pasti ada persoalan atau kebutuhan yang seolah-olah terus menempel, seakan Tuhan membiarkannya melekat dalam hidup kita, dan tidak kunjung selesai. Hal ini bisa membuat kita merasa malu, tidak tenang, dan tidak nyaman menjalani hidup. Masalah itu bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, persoalan anak, kesulitan ekonomi, atau relasi dengan orang dekat—misalnya dengan mertua atau ipar. Pokoknya, ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan hidup kita. Ada kebutuhan yang dibiarkan Tuhan tidak terpenuhi dalam hidup kita; ada hal yang membuat kita terus merasa tidak tenang.

Inilah yang dalam 2 Korintus 12:7 disebut sebagai duri dalam daging . Jika kita mengalami hal seperti ini, ketahuilah bahwa itu merupakan bagian dari dinamika hidup orang percaya. 2 Korintus 12:7 adalah kesaksian Rasul Paulus, seorang yang sangat dekat dengan Allah, yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk Allah. Paulus adalah pribadi yang bisa dikatakan suci, tak bercela, dan saleh. Namun demikian, ada persoalan yang dibiarkan Tuhan tetap ada dalam hidupnya, bahkan berlangsung lama. Paulus mengungkapkan bahwa ia telah tiga kali berseru kepada Tuhan agar duri itu diangkat, tetapi jawaban Tuhan adalah: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kita pun pasti pernah—atau sedang—mengalami hal serupa. Setiap kita memiliki “duri” dalam hidup. Maka jangan bingung, dan jangan terus-menerus bertanya, “Mengapa hal ini terjadi dalam hidupku?”

Yang pertama harus kita akui adalah bahwa Tuhan memang menghendaki atau mengizinkan adanya duri semacam itu dalam hidup kita. Duri itu bisa saja berupa suami, istri, mertua, anak, orang dekat, atau situasi tertentu yang membuat kita tidak nyaman—atau kebutuhan yang tidak terpenuhi . Satu hal yang dikehendaki Tuhan adalah agar kita tidak meragukan-Nya, sekecil apa pun keraguan itu. Jangan mencurigai Tuhan, sekecil apa pun kecurigaan itu.

Terkadang Tuhan membawa kita masuk ke dalam situasi yang sangat kritis—situasi yang sangat berpotensi menimbulkan kecurigaan kepada-Nya, atau bahkan kekecewaan terhadap-Nya. Mungkin saat ini, ada di antara kita yang sedang berada dalam keadaan tersebut, sampai-sampai mulai menunjukkan reaksi batin atau semacam “demonstrasi rohani” kepada Tuhan—misalnya, dengan tidak lagi pergi ke gereja.

Padahal, dengan melakukan hal itu, kita sedang menjauh dari Sumber Kehidupan. Akibatnya, kita berada dalam celaka—baik selama di bumi ini, maupun dalam kekekalan. Oleh sebab itu, jangan sedikit pun mencurigai Tuhan, jangan sedikit pun memelihara amarah terhadap-Nya. Mungkin tidak secara terang-terangan kita marah kepada Tuhan, tetapi di dalam hati ada bara, ada api kemarahan yang tidak berani kita kemukakan. Kepada manusia yang kita hormati saja kita enggan mengungkapkan amarah, apalagi kepada Tuhan.

Khususnya bagi kita yang sudah menjadi Kristen sejak kecil, atau telah lama mengikut Tuhan—apalagi yang pernah melayani—ada rasa hormat dan takut kepada Tuhan. Maka ketika kita marah atau kecewa kepada-Nya, kita tidak mengekspresikannya secara terbuka. Lalu, kita berusaha menghibur diri dengan berpikir, “Mungkin dahulu Abraham juga sempat berpikir seperti saya: kenapa Tuhan melakukan hal itu?” Bertahun-tahun ia menunggu kelahiran anak yang dijanjikan, padahal namanya telah diganti dari Abram menjadi Abraham—yang berarti “bapa banyak bangsa.” Namun, seakan-akan Tuhan mengingkari janji-Nya. Apalagi ketika Tuhan meminta Abraham mempersembahkan Ishak.

Sesungguhnya, Tuhan pasti menopang kita dengan sempurna. Pada akhirnya, kita akan melihat adanya belokan-belokan tak terduga, penyelesaian-penyelesaian yang tidak kita sangka. Tetapi jangan membuat skenario sendiri, dan jangan menganggap hal itu mudah. Karena bagi Tuhan, menyelesaikan masalah kita itu mudah. Yang sulit adalah mengajar kita untuk memercayai Dia.