Bayangkanlah, kita sedang terbaring di ruang ICCU sebuah rumah sakit. Napas kita tinggal sepotong saja—artinya, kita sudah sangat kesulitan untuk bernapas. Oleh karena itu, alat bantu pernapasan dibutuhkan. Tidak ada alunan musik klasik atau lagu pop yang terdengar. Kalaupun ada suara yang terdengar, itu adalah nyanyian kematian. Seakan-akan penghuni ruangan ICCU tersebut sedang mempersiapkan sebuah paduan suara—nyanyian kematian.

Bunyi alat-alat medis terdengar monoton, menopang sisa-sisa kehidupan mereka yang tengah sekarat, termasuk kita. Suara-suara itu membangkitkan perasaan yang mencekam. Kita pun tak mampu membedakan antara siang dan malam.

Yang kita tahu, ketika malam tiba, semuanya menjadi lebih senyap. Tidak ada lagi lalu-lalang para pembesuk yang datang untuk mendoakan pasien-pasien yang secara medis telah dinyatakan tanpa harapan. Saat menoleh ke kanan dan ke kiri, yang tampak hanyalah ranjang-ranjang pasien lain yang bernasib serupa. Tak terlintas di benak kita akan keberadaan televisi dengan sinetron berseri yang biasa menemani sebelum tidur saat tubuh masih sehat. Bila penciuman kita masih berfungsi, aroma yang tercium hanyalah bau khas rumah sakit yang kental dengan obat-obatan. Tak ada bau minyak wangi, apalagi aroma kopi hangat.

Dokter pun telah memberi isyarat kepada keluarga bahwa harapan telah sirna. Oleh karena itu, keluarga diminta untuk berkumpul. Barangkali kita masih bisa merasakan kehadiran mereka di sekitar kita, tetapi tubuh ini sudah tidak mampu digerakkan sama sekali. Andaikata kita masih dapat berbicara, mungkin kita ingin berkata, “Temani aku.” Namun suara itu takkan pernah terdengar karena mulut telah dipenuhi selang-selang alat bantu pernapasan.

Harapannya, saat itu kita masih mampu berbisik dalam hati, “Tuhan, Engkaulah Sahabatku. Temanilah aku.” Namun, bila kita tidak pernah sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan sejak awal, mungkinkah kita berharap Tuhan berkenan menemani kita di saat-saat terakhir?

Setiap manusia akan mengalami yang disebut sebagai pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir adalah tempat terakhir tubuh direbahkan sebelum maut menjemput. Kita tidak pernah tahu di mana dan kapan itu akan terjadi. Ada orang yang tidur siang di kasur rumahnya, dan keesokan harinya ia telah terbujur kaku. Itulah pembaringan terakhirnya. Ada pula yang terbaring di jalan aspal akibat kecelakaan, dan itulah pembaringan terakhirnya. Bisa juga di kursi pesawat, bangku bus, atau tempat duduk kapal pesiar. Kursi-kursi itulah pembaringan terakhirnya karena di sanalah ia menghembuskan napas terakhir.

Mari kita renungkan dengan sungguh-sungguh bahwa suatu saat nanti kita pasti akan mengalami pembaringan terakhir. Mengapa hal ini perlu kita pikirkan, meskipun kita masih muda? Sebab, kematian tidak mengenal usia, tidak mengenal tempat, dan bisa datang melalui sarana apa pun. Jarang Tuhan memberi tahu kita di mana pembaringan terakhir itu berada.

Jika seandainya kita diberi kesempatan untuk memilih tempat pembaringan terakhir yang menurut kita paling ideal, kira-kira di mana kita akan memilihnya? Namun, mungkin saat itu kita tidak lagi peduli di mana tempatnya, karena akhir kehidupan itu sendiri sudah cukup menakutkan. Tidak perlu dipersoalkan di mana tempat tubuh kita dibaringkan terakhir kali. Tidak perlu pula mempermasalahkan seperti apa peti mati yang akan digunakan. Yang terpenting adalah: di manakah roh dan jiwa kita dibaringkan setelah tubuh dikuburkan? Itulah persoalan sejatinya.

Sebab, yang paling penting bukan siapa yang mengantar, melainkan siapa yang menjemput. Kalimat itu layak selalu diingat. Kalaupun keluarga menyewa seluruh ruangan rumah duka, menyiapkan hidangan istimewa, dan iring-iringan mobil mengular sejauh sepuluh kilometer, apalah artinya jika kita tidak dijemput oleh Sang Pemilik Kehidupan? Namun, ironisnya, banyak orang tidak memikirkan dengan sungguh-sungguh apakah akan ada jemputan ilahi untuk dirinya. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi kita harus memikirkannya, karena akhir kehidupan adalah sesuatu yang pasti akan kita alami. Pasti.