baca: penggarapan) Allah di dalam hidup kita. Allah tidak pernah berhenti berurusan dengan kita, namun sebaliknya, kita yang sering berhenti berurusan dengan Allah atau tidak mau tahu apa yang Allah sedang kerjakan di dalam hidup kita. Karena kita adalah umat pilihan, kita menjadi anak-anak Allah, maka Allah tidak pernah berhenti berurusan dengan kita. Alkitab menunjukkan bahwa kasih Allah kepada kita lebih dari kasih seorang ibu. Apakah ada seorang ibu yang meninggalkan anak yang sedang disusuinya? Seandainya ada, lalu Tuhan menegaskan, “Aku tidak pernah meninggalkan kamu.” Jadi, Tuhan tidak pernah tidak berurusan dengan kita.
Dan betapa berharganya kehadiran Tuhan dalam hidup kita setiap saat, sebab tidak mungkin kehadiran Tuhan itu tanpa berkat. Dan tidak mungkin berkat yang Tuhan berikan kepada kita adalah berkat fana. Pasti yang diberikan Tuhan kepada kita itu adalah berkat kekal, berkat abadi yang terbaik untuk kita. Oleh sebab itu, jangan kita kehilangan fokus. Fokus kita harus tetap kepada Tuhan. Tidak ada kehidupan di luar Tuhan. Jadi, jangan menunggu ada masalah atau ada kebutuhan mendesak baru kita datang kepada Tuhan dan berurusan dengan Tuhan.
Kita berurusan dengan Tuhan bukan karena kita ada masalah tertentu atau ada kebutuhan tertentu di mana hanya Tuhan yang bisa menolong kita, namun karena memang seharusnya Tuhan adalah satu-satunya urusan kita, Tuhan adalah satu-satunya kepentingan kita. Seperti waktu seseorang jatuh cinta, bukankah siang malam yang dia pikirkan hanya si dia yang dicintainya? Apalagi jika si dia sedang sakit yang mengancam nyawa. Atau saat kita mempunyai bisnis yang sedang berkembang bagus, pasti hati kita berbunga-bunga, sehingga yang kita pikirkan hanya bisnis itu dan itu tidak pernah lepas dari pikiran kita. Atau sebaliknya, bisnis sedang mengalami sebuah masalah, sedang jatuh menuju kehancuran atau kebangkrutan, bukankah masalah itu melekat di dalam pikiran kita?
Lalu kenapa kita tidak fokus kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai urusan kita? Sampai kita memiliki kapasitas menjadi seorang yang bisa mengantar sesama kepada Tuhan sampai pada kedewasaan rohani atau kehidupan rohani yang menyenangkan atau memuaskan hati Allah. Coba kita mengambil keputusan ini, walaupun ini mungkin terasa aneh atau berlebihan atau terlalu ekstrem. Tetapi ketika Yesus berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku. Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah kemari, ikut Aku,” bukankah pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa kita dibawa kepada hanya satu urusan, yaitu Tuhan?
Dan banyak lagi ayat yang jelas menunjukkan bahwa Tuhan harus menjadi urusan kita satu-satunya. Dan untuk itu, tidak bisa tidak, kita harus menjumpai Tuhan. Jangan hanya menalar Allah. Di media sosial banyak orang cakap berbicara, lalu orang diarahkan hanya menalar Allah. Tapi mari kita merasakan Allah. Allah menjadi satu Pribadi yang hidup, yang nyata, yang benar-benar kita rasakan, bisa kita kecap. Sebab kalau kita menjadikan Tuhan sebagai urusan kita satu-satunya, kepentingan kita satu-satunya, maka Tuhan akan mencengkeram hidup kita, baik di dalam roh, jiwa, bahkan fisik kita.
Kita harus berani mengambil keputusan itu. Namun jangan heran jika manusia lama kita atau ada suara di dalam daging kita yang menahan, menolak, melawan, dan mengatakan, “Kamu berlebihan. Sekarang belum waktunya. Ini bukan sesuatu yang proper. Bagaimana nanti kalau kamu mengingkari ini?” Tetapi mari kita bertekad untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya urusan hidup kita. Sebagaimana Paulus mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Di ayat lain dia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”