Pernahkah masing-masing kita memperkarakan hidup kita sendiri? Apakah kita sungguh-sungguh mengerti bahwa jalan yang kita lalui hari ini, lorong yang kita susuri hari ini adalah jalan yang diajarkan dan diarahkan Tuhan? Ini paralel dengan para majus yang diperingatkan dalam mimpi di mana mereka mendapat arahan untuk tidak kembali ke jalan yang sama dan menemui Herodes. Bisa-bisa kalau mereka datang menemui Herodes, maka mereka akan menjadi tamu terhormat bagi Herodes dan bisa dianggap orang berjasa. Jalan hidup yang kita jalani hari ini, apakah jalan lain sesuai dengan petunjuk Tuhan, atau kita tidak mengerti?

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.”

Masalahnya adalah bagaimana agar kita bisa mengenali bahwa jalan hidup yang kita jalani itu adalah jalan lain, bukan jalan dunia? Jawabnya adalah kita harus mengerti kehendak Allah di dalam dinamika hidup kita. Oleh sebab itu, dinamika hidup kita itu haruslah dinamika hidup yang dituntun oleh Roh Kudus. Dinamika itu bicara mengenai keadaan yang selalu berubah oleh karena suatu dorongan atau satu kekuatan. Lalu apa yang mendorong dinamika hidup kita? Hati-hati, setan itu licik sekali. Ia mengarahkan orang ke api kekal, baik itu jemaat, aktivis maupun pendeta. Kalau kita tidak berjalan dengan Tuhan, kita pasti tertipu oleh kelicikan Iblis.

Karena Iblis memiliki kecerdasan yang melampaui kecerdasan manusia, namun tidak melampaui kecerdasan Allah, tidak melampaui kecerdasan Roh Kudus. Jadi, kalau berdasarkan pengalaman hidup dan pendidikan, kita pasti diarahkan kepada dinamika hidup yang kelihatannya benar, tapi sebenarnya ke api kekal. Dia bisa menyamar sebagai malaikat, padahal dia bukan malaikat yang kudus. Manusia saja bisa memalsukan barang secanggih apa pun, apalagi iblis yang lebih dari manusia, dia bisa menjadi malaikat palsu. Jadi, kalau bukan Roh Kudus yang pimpin kita, kita bisa tidak akan mengenali apakah kita ini sekarang berada di jalan lain atau tidak. Sebab, kelihatannya kita ada di gereja dan mungkin aktif dalam pelayanan, tetapi sebenarnya kita belum ada di jalan Tuhan.

Jangan kita pikir, kalau kegiatan itu kegiatan rohani, pasti disetujui Tuhan, belum tentu. Ada yang bukan bagian kita dan itu tidak perlu kita pegang. Jadi cirinya jelas, orang yang berjalan di jalan Tuhan itu mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Artinya memiliki ketepatan, presisi di dalam bertindak. Masalahnya, bagaimana kita tahu bahwa tindakan kita itu presisi? Di sinilah kita harus memiliki perjumpaan dengan Tuhan sampai kita bisa menikmati damai sejahtera Allah, sampai kita bisa mencium kesucian Tuhan serta keagungan dan kekudusan-Nya, sehingga mengalami kebahagiaan dan sukacita di dalam Tuhan.

Hal itu haruslah sesuatu yang riil, bukan fantasi. Kalau kita sering mendengar orang berkata, “Aku membawa damai sejahtera dari Tuhan”—padahal dia belum mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi—maka itu hanya fantasi. Dia harus mengalami dulu perjumpaan dengan Tuhan. Coba renungkan, betapa hebat kita bisa memiliki Tuhan, bisa berjalan dengan Yang Maha Kudus, Allah Israel, dan dengan Tuhan Yesus Kristus yang berjanji menyertai kita. Damai sejahtera dari Allah menjadi ukuran, apakah kita presisi atau tidak dalam bertindak. Kalau kebahagiaan, sukacita dan damai sejahtera kita masih ditopang oleh perkara-perkara dunia, maka kita pasti tidak bisa membedakan, apakah tindakan ini presisi atau tidak. Indikatornya kacau, parameternya tidak jelas.