Tuhan mau mendidik kita. Yang pada intinya, Tuhan mau hidup kita berkualitas. Sebab hidup kekal bukan hanya bicara mengenai kehidupan yang terus-menerus nanti di surga setelah kematian, namun bicara mengenai kualitas hidup, dalamnya hidup sejak kita hidup sekarang ini dan akan diteruskan di kekekalan. Ingat, perjalanan hidup kita harus bersama dengan Tuhan. Kecuali arah hidup kita tidak jelas, sehingga kita tidak layak dilindungi. Kalau kita ada di jalur yang benar, maka semua peristiwa yang terjadi itu pasti mendatangkan kebaikan; membuat hidup kita tambah hari tambah berkualitas, sehingga kita layak masuk Kerajaan Surga. Seperti bangsa Israel yang dipersiapkan Tuhan mewarisi Kanaan yang permai, mereka dari bangsa budak harus diubah, jadi harus disekolahkan dulu di sekolah padang gurun.

Kita masih memiliki masalah, bahkan dibayang-bayangi hal-hal yang menakutkan atau mencekam hidup, namun jangan seperti murid-murid Yesus. Di mana saat dalam keadaan sulit, kita serasa ingin menyalahkan Tuhan—mulut kita tidak mengeluarkan kata-kata marah terhadap Tuhan, akan tetapi hati kita marah. Jangan kita menghina Tuhan dan merendahkan Dia dengan tidak memercayai-Nya atau meragukan-Nya. Seharusnya perjalanan hidup membuat kita menjadi lebih matang, lebih dewasa, lebih mengerti dan memahami Tuhan. Yang penting kita harus ada di jalur yang benar; menuju langit baru bumi baru. Memang, jalan kita tidak mudah, tetapi itulah cara Tuhan menghancurkan karakter buruk kita, meningkatkan kualitas kita, supaya kita sampai di seberang.

Sampai akhirnya kita bisa mengerti bahwa bagi seorang perwira tinggi, taufan yang melanda hidupnya harus dahsyat. Sebab pada akhirnya Tuhan menginginkan hati kita memercayai Dia secara utuh. Kalau keadaan kita baik-baik saja, lalu kita percaya Tuhan, kita memberi persembahan untuk Tuhan, mendukung pekerjaan Tuhan, itu belum teruji. Tetapi kalau kita dalam kondisi yang terjepit namun kita tetap sungguh-sungguh melayani Tuhan, mempersembahkan hidup, dan tidak surut kita memercayai Tuhan, itu membahagiakan hati-Nya. Jadi yang penting jalurnya sudah harus benar. Lalu Tuhan proses kita. Keadaan kita hari ini adalah keadaan yang terbaik yang Tuhan kondisikan, karena Tuhan mengontrol dan mengendalikan segala keadaan. Sekalipun Tuhan seakan-akan tidak peduli, seakan-akan diam, kita harus tetap memercayai Dia.

Bagi seorang Paulus yang begitu mencintai Tuhan, yang hidupnya tanpa batas dipersembahkan untuk Tuhan, Tuhan menaruh duri dalam dagingnya. Satu hal yang sukar dimengerti untuk kelas seperti Rasul Paulus. Semestinya dibuat semua baik-baik saja supaya tidak mengganggu pekerjaan Tuhan di tangan Paulus. Sebab Paulus selain melayani Tuhan, juga harus membuat kemah guna membiayai kebutuhan transportasi dan hidupnya dan hidup teman-teman seperjalanannya. Tetapi Tuhan menaruh duri dalam daging yang membuat Paulus tidak nyaman.

Paulus memohon Tuhan untuk mengangkat duri dalam dagingnya. Namun Tuhan menjawab, “Anugerah-Ku cukup bagimu.” Jadi kalau Tuhan masih menyisakan hal yang membuat kita merasa terancam, terganggu, atau yang kita sebut sebagai duri dalam daging, percayalah bahwa Allah itu maha cerdas dan maha baik. Kita harus belajar tidak terganggu, tetapi sebaliknya, kita harus mengolah masalah itu menjadi bahan bakar untuk terbang lebih tinggi. Tuhan berkata kepada Paulus, “supaya kamu tidak sombong.” Sehingga Tuhan memberi katup pengaman.

Kita sering menimbang dengan pikiran kita yang sekepal ini. Allah maha cerdas dan maha tahu bahwa keadaan kita yang sulit justru menghindarkan kita dari dosa, dan menyelamatkan kekekalan kita. Kita bisa seperti hari ini pun karena Tuhan yang memproses kita. Sampai akhirnya kita mengerti bahwa masalah terbesar sebenarnya bukan masalah yang sedang menimpa kita, melainkan ketika hati kita tidak bisa diubah, karakter kita tidak bisa diremukkan. Jadi kita harus menemukan maksud Tuhan di balik semua peristiwa yang terjadi