Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, untuk apa sebenarnya kita hidup?

Kita bekerja, membangun keluarga, mengejar masa depan, berusaha memenuhi kebutuhan hidup, dan berjuang mencapai berbagai impian. Kita ingin menjadi orang yang berhasil. Kita ingin membahagiakan keluarga. Kita ingin kehidupan kita memiliki arti.

Namun, di tengah semua kesibukan itu, ada satu pertanyaan yang sering kali terlupakan.

Apakah kita sedang menjalani kehidupan sesuai dengan tujuan Tuhan?

Kita mungkin sudah lama menjadi orang Kristen. Kita mungkin aktif mengikuti ibadah, terlibat dalam pelayanan, bahkan dipercaya memegang tanggung jawab dalam gereja. Tetapi apakah semua itu berarti kita sungguh-sungguh bertumbuh dalam iman?

Sebab, ada perbedaan antara terlihat sibuk melayani Tuhan dan benar-benar hidup sesuai dengan panggilan Tuhan.

Seseorang bisa aktif dalam pelayanan, tetapi sulit mengampuni orang lain. Seseorang bisa berbicara tentang kasih, tetapi perkataannya justru melukai sesama. Seseorang bisa mengajarkan kesetiaan, tetapi meninggalkan tanggung jawab ketika keadaan tidak lagi menyenangkan.

Itulah sebabnya, dalam episode kali ini, kita akan merenungkan sebuah pesan penting dari 2 Petrus 1:3–15.

Tema kita adalah, “Berusahalah Sungguh-Sungguh Supaya Panggilan dan Pilihanmu Makin Teguh.”

Kita juga akan memperdalam pesan ini melalui pemikiran dari dua buku Kristen, yaitu The Purpose Driven Life karya Rick Warren dan Radical karya David Platt.

Keduanya mengajak kita memeriksa kembali tujuan hidup, kesungguhan iman, dan harga yang harus kita bersedia tanggung ketika mengikuti Kristus.

Mari kita mulai.

BAGIAN 1 — KITA HIDUP BUKAN HANYA UNTUK DIRI SENDIRI

Dalam 2 Petrus 1:3, kita diingatkan bahwa kuasa Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup yang saleh melalui pengenalan akan Dia.

Perhatikan baik-baik pesan ini.

Kehidupan Kristen dimulai dari anugerah Tuhan. Kita tidak menjadi milik Tuhan karena kita hebat. Kita tidak dipanggil karena kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kita juga tidak menerima kasih Tuhan karena kita sudah berhasil menjalani kehidupan yang sempurna.

Kitalah yang membutuhkan anugerah-Nya.

Tuhan mengenal keterbatasan kita. Dia mengetahui bahwa kita bisa merasa takut, kehilangan semangat, mengambil keputusan yang salah, dan mengalami kegagalan. Namun, Tuhan tetap memanggil kita untuk bertumbuh dan menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Petrus sendiri pernah mengalami kegagalan. Ia pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Namun, kegagalan itu bukan menjadi akhir dari kehidupannya. Tuhan tetap bekerja dalam hidup Petrus dan mempercayakan kepadanya tanggung jawab pelayanan.

Ini memberikan pengharapan bagi kita.

Mungkin kita pernah gagal dalam pelayanan. Mungkin kita pernah mengecewakan orang lain. Mungkin kita pernah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Namun, kegagalan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan iman kita.

Kita perlu mengakui kesalahan, menerima teguran, bertobat, dan bersedia dibentuk kembali oleh Tuhan.

Yang menjadi persoalan bukan sekadar apakah kita pernah gagal, melainkan apakah kita bersedia belajar dan berubah ketika Tuhan menunjukkan kesalahan kita.

Sekarang, mari kita kembali kepada pertanyaan di awal.

Untuk apa kita hidup?

Dalam buku The Purpose Driven Life, Rick Warren mengajak pembaca memahami bahwa kehidupan seharusnya berpusat pada tujuan Tuhan, bukan hanya pada keinginan manusia.

Gagasan ini menantang kita untuk mengubah cara berpikir.

Biasanya, kita bertanya, apa yang ingin saya capai? Apa yang ingin saya miliki? Apa yang ingin saya nikmati? Bagaimana saya bisa menjadi lebih berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu salah. Kita boleh memiliki impian, merencanakan masa depan, bekerja keras, dan berusaha memperbaiki kehidupan.

Namun, sebagai orang percaya, kita juga perlu bertanya, apa yang Tuhan kehendaki melalui kehidupan saya?

Bagaimana kemampuan yang saya miliki dapat digunakan untuk melayani? Bagaimana pekerjaan saya dapat menjadi berkat? Bagaimana pengalaman hidup saya dapat menolong orang lain? Bagaimana keluarga dan lingkungan saya dapat merasakan kasih Tuhan melalui kehadiran saya?

Dengan demikian, hidup tidak lagi hanya berpusat pada apa yang bisa kita dapatkan, tetapi juga pada apa yang bisa kita berikan.

Panggilan Tuhan tidak hanya berlaku bagi orang yang berdiri di mimbar atau memegang jabatan gerejawi.

Seorang ayah dapat menjalani panggilannya melalui tanggung jawab terhadap keluarga. Seorang ibu dapat menunjukkan kasih Tuhan melalui perhatian dan ketekunannya. Seorang guru dapat menjadi berkat melalui pendidikan dan keteladanan. Seorang pekerja dapat memuliakan Tuhan melalui kejujuran dan tanggung jawabnya.

Demikian juga, seorang Diaken, Penatua, Guru Agama, atau Pendeta dipanggil untuk menjalankan tanggung jawab pelayanan dengan sungguh-sungguh.

Artinya, panggilan Tuhan bukan hanya tentang posisi yang kita tempati, melainkan tentang bagaimana kita menjalani kehidupan di tempat Tuhan menempatkan kita.

Cobalah merenungkan pertanyaan ini sejenak.

Jika hari ini Tuhan melihat seluruh kehidupan kita, bukan hanya kegiatan kita di gereja, tetapi juga perkataan kita di rumah, keputusan kita di tempat kerja, dan cara kita memperlakukan orang lain, apakah kehidupan kita sudah mencerminkan tujuan-Nya?

Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita merasa tidak layak. Pertanyaan ini mengajak kita memeriksa arah kehidupan.

Sebab, kita bisa saja sangat sibuk melakukan banyak hal, tetapi tidak lagi memahami mengapa kita melakukannya.

Kita bisa begitu sibuk melayani sampai lupa membangun hubungan pribadi dengan Tuhan.

Kita bisa begitu sibuk mengurus kegiatan gereja sampai lupa memperhatikan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Kita bisa begitu sibuk mempertahankan kedudukan sampai lupa bahwa Yesus memanggil kita untuk menjadi pelayan.

Karena itu, marilah kita kembali kepada tujuan yang benar.

Kita hidup karena anugerah Tuhan. Kita dipanggil untuk mengenal Dia, bertumbuh dalam iman, melayani sesama, dan memuliakan nama-Nya.

BAGIAN 2 — IMAN SEJATI TIDAK BERHENTI PADA PENGAKUAN

Dalam 2 Petrus 1:5–9, Petrus mengingatkan bahwa iman harus disertai kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih kepada semua orang.

Mengapa Petrus menekankan semua ini?

Karena iman yang hidup seharusnya menghasilkan perubahan dalam kehidupan.

Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus. Kita perlu belajar hidup sesuai dengan apa yang kita percayai.

Jika kita percaya bahwa Tuhan menghendaki kejujuran, kita harus berusaha jujur sekalipun tidak ada orang yang mengawasi.

Jika kita percaya bahwa Tuhan mengajarkan pengampunan, kita harus belajar melepaskan kepahitan.

Jika kita percaya bahwa Tuhan mengajarkan kasih, kita harus belajar memperlakukan orang lain dengan hormat, termasuk mereka yang berbeda pendapat dengan kita.

Namun, di sinilah tantangannya.

Kita sering kali ingin mengikuti Tuhan selama kehendak-Nya sesuai dengan keinginan kita.

Kita bersedia melayani selama dihargai. Kita bersedia menolong selama tidak terlalu merepotkan. Kita bersedia mengampuni selama orang lain terlebih dahulu mengakui kesalahannya.

Kita ingin menjadi orang Kristen yang diberkati, tetapi terkadang tidak bersedia menjalani proses pembentukan karakter.

Kita ingin menjadi pelayan yang dihormati, tetapi tidak selalu bersedia melakukan pekerjaan yang sederhana.

Kita ingin orang lain berubah, tetapi kita sendiri sulit menerima teguran.

Apakah ini berarti iman kita tidak sungguh-sungguh?

Setidaknya, keadaan ini menunjukkan bahwa masih ada bagian dalam kehidupan kita yang perlu dibentuk oleh Tuhan.

Di sinilah pemikiran dari buku Radical karya David Platt menjadi relevan.

Platt menantang orang Kristen untuk memeriksa apakah mereka benar-benar mengikuti Yesus atau hanya mengikuti bentuk kekristenan yang terasa nyaman bagi diri sendiri.

Mengikut Kristus bukan sekadar menambahkan kegiatan keagamaan ke dalam jadwal hidup kita. Mengikut Kristus berarti memberikan kepada-Nya hak untuk mengarahkan kehidupan kita.

Ini bukan berarti setiap orang harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau seluruh harta miliknya. Persoalannya bukan terletak pada apakah kita memiliki sesuatu, melainkan apakah sesuatu itu telah mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan.

Apakah kenyamanan sudah menjadi hal yang lebih penting daripada ketaatan?

Apakah uang telah menjadi ukuran utama dalam mengambil keputusan?

Apakah keinginan untuk dihargai membuat kita sulit melayani dengan tulus?

Apakah ketakutan kehilangan kedudukan membuat kita enggan melakukan apa yang benar?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, terutama ketika kita berbicara tentang panggilan dan pelayanan.

Bayangkan ada seseorang yang mengetahui bahwa sebuah keluarga sedang mengalami kesulitan. Ia sebenarnya bisa mengunjungi, mendengarkan, dan memberikan penguatan. Namun, ia memilih tidak peduli karena merasa terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Atau bayangkan seseorang yang telah lama berselisih dengan saudaranya. Ia mengetahui bahwa dirinya juga memiliki kesalahan, tetapi terus menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu.

Dalam kedua keadaan itu, persoalannya bukan sekadar mengetahui apa yang benar. Persoalannya adalah apakah kita bersedia melakukan apa yang benar.

Kadang-kadang, ketaatan membutuhkan pengorbanan.

Kita harus mengorbankan sedikit waktu untuk mendengarkan orang yang sedang bergumul.

Kita harus mengorbankan ego untuk mengakui kesalahan.

Kita harus mengorbankan keinginan untuk selalu menang demi memulihkan hubungan.

Kita harus berani menolak keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Semua itu mungkin tidak terlihat besar di mata orang lain. Namun, di situlah iman diuji dan karakter dibentuk.

Petrus menyebut ketekunan dan penguasaan diri karena kehidupan iman tidak selalu mudah. Ada saat ketika kita ingin menyerah. Ada saat ketika kita merasa tidak dihargai. Ada saat ketika kita bertanya apakah semua yang kita lakukan masih memiliki arti.

Pada saat seperti itu, kita perlu mengingat bahwa kesetiaan tidak bergantung pada pujian manusia.

Kita melakukan yang benar bukan semata-mata karena orang lain melihatnya, melainkan karena kita ingin hidup di hadapan Tuhan dengan hati yang tulus.

Kita mengampuni bukan karena orang lain selalu pantas menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri telah menerima anugerah Tuhan.

Kita melayani bukan supaya Tuhan mulai mengasihi kita, melainkan karena kita telah lebih dahulu menerima kasih-Nya.

Inilah perbedaan antara pelayanan yang hanya menjadi kegiatan dan pelayanan yang lahir dari iman.

Pelayanan yang hanya menjadi kegiatan akan mudah berhenti ketika kita kecewa.

Namun, pelayanan yang berakar pada kasih kepada Tuhan akan terus mencari cara untuk melakukan yang benar, sekalipun harus melalui proses yang sulit.

Karena itu, pertumbuhan iman bukan hanya tentang bertambahnya pengetahuan kita mengenai Alkitab. Pertumbuhan iman juga terlihat ketika kita semakin mampu mengendalikan diri, semakin rendah hati, semakin jujur, dan semakin mengasihi sesama.

Coba tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah saya menjadi lebih sabar dibandingkan beberapa tahun yang lalu?

Apakah saya lebih mudah meminta maaf?

Apakah saya semakin tulus ketika menolong orang lain?

Apakah saya bersedia menerima kritik yang benar tanpa langsung menyerang balik?

Pertanyaan-pertanyaan ini menolong kita melihat apakah firman Tuhan benar-benar sedang membentuk kehidupan kita.

Sebab, iman yang bertumbuh tidak hanya membuat kita semakin banyak berbicara tentang Tuhan. Iman yang bertumbuh membuat karakter kita semakin mencerminkan Kristus.

BAGIAN 3 — JANGAN HANYA MEMILIKI JABATAN, JALANILAH PANGGILAN

Dalam 2 Petrus 1:10, kita menemukan pesan utama dari renungan ini. Petrus menasihati orang percaya supaya mereka berusaha sungguh-sungguh agar panggilan dan pilihan mereka semakin teguh.

Perhatikan kata sungguh-sungguh.

Kata ini mengingatkan kita bahwa kehidupan iman membutuhkan keseriusan, ketekunan, dan tanggung jawab.

Panggilan Tuhan tidak boleh dipahami hanya sebagai kesempatan memperoleh jabatan dalam gereja.

Jabatan adalah tanggung jawab. Pelayanan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan harus dijalankan dengan setia.

Yesus sendiri memberikan teladan tentang arti kepemimpinan yang benar. Dalam Markus 10:43–45, Yesus mengajarkan bahwa siapa yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan.

Artinya, ukuran kebesaran seorang pelayan bukan hanya seberapa tinggi kedudukannya atau seberapa banyak orang menghormatinya.

Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia menjalankan tanggung jawab, dan bagaimana ia tetap setia ketika tidak mendapatkan penghargaan.

Seseorang bisa memiliki jabatan, tetapi tidak memiliki hati seorang pelayan.

Seseorang bisa memimpin rapat, tetapi tidak bersedia mendengarkan pendapat orang lain.

Seseorang bisa berbicara tentang kasih, tetapi terus menyimpan kebencian.

Seseorang bisa menuntut kesetiaan dari orang lain, tetapi tidak setia menjalankan tanggung jawabnya sendiri.

Karena itu, kita perlu memeriksa diri.

Apakah kita melayani karena mengasihi Tuhan, atau karena ingin dihormati?

Apakah kita menjalankan tanggung jawab karena menyadari panggilan Tuhan, atau hanya karena takut mendapat teguran?

Apakah kita tetap setia ketika tidak ada yang memuji kita?

Ingatlah bahwa panggilan Tuhan tidak hanya diuji ketika kita berdiri di depan banyak orang. Panggilan itu juga diuji dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Ketika kita memilih untuk tetap jujur.

Ketika kita menepati janji.

Ketika kita mengakui kesalahan.

Ketika kita tetap menolong meskipun tidak mendapatkan balasan.

Ketika kita memilih berdamai daripada memperbesar perselisihan.

Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang berusaha berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Petrus tidak sedang mengajarkan bahwa kita memperoleh keselamatan dengan mengumpulkan perbuatan baik. Keselamatan tetap merupakan anugerah Tuhan. Namun, anugerah itu seharusnya menghasilkan kehidupan yang berubah.

Kita tidak berbuat baik supaya Tuhan berutang keselamatan kepada kita. Kita berusaha hidup benar karena kita telah menerima kasih-Nya dan ingin memberikan respons yang sesuai.

Dalam ayat 11, Petrus juga mengarahkan perhatian kepada tujuan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak berhenti pada keberhasilan duniawi.

Jabatan kita suatu saat akan berakhir. Pujian manusia tidak akan selalu kita terima. Kekuatan dan kesempatan kita juga dapat berubah.

Karena itu, jangan mengukur seluruh kehidupan hanya berdasarkan keberhasilan yang terlihat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita tetap setia kepada Tuhan dan menggunakan kehidupan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Bagi orang yang melayani di gereja, ini berarti menjalankan tanggung jawab dengan jujur, memperhatikan jemaat, dan tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Bagi orang tua, ini berarti membangun keluarga dengan kasih, tanggung jawab, dan keteladanan.

Bagi orang yang bekerja, ini berarti menjalankan pekerjaan dengan integritas.

Bagi setiap orang percaya, ini berarti membawa nilai-nilai Kristus ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kita mungkin tidak melakukan sesuatu yang terkenal. Kita mungkin tidak memiliki jabatan yang tinggi. Kita mungkin tidak mendapatkan banyak pujian.

Namun, kita tetap dapat hidup dengan setia di tempat Tuhan menempatkan kita.

Jangan meremehkan tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih.

Kunjungan kepada orang yang sakit, perhatian kepada keluarga yang berduka, kesediaan mendengarkan orang yang sedang bergumul, dan keberanian mengakui kesalahan dapat menjadi cara kita menunjukkan kasih Tuhan.

Jangan hanya bertanya, apa yang sudah saya dapatkan dari pelayanan ini?

Bertanyalah juga, siapa yang telah merasakan kasih Tuhan melalui pelayanan saya?

Jangan hanya bertanya, apakah orang lain menghargai saya?

Bertanyalah juga, apakah saya telah menghargai orang-orang yang Tuhan percayakan kepada saya?

Sebab, panggilan Tuhan bukanlah panggung untuk membesarkan nama sendiri. Panggilan Tuhan adalah kesempatan untuk menjadi berkat.

BAGIAN 4 — TETAPLAH BERTUMBUH DAN JANGAN BERHENTI BELAJAR

Dalam 2 Petrus 1:12–15, Petrus menjelaskan pentingnya terus mengingatkan jemaat tentang kebenaran yang telah mereka terima.

Mengapa mereka masih perlu diingatkan?

Karena manusia mudah lupa. Kita dapat mengetahui apa yang benar, tetapi tetap tergoda untuk melakukan yang salah.

Kita tahu bahwa kita harus sabar, tetapi mudah marah.

Kita tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi terus menyimpan kepahitan.

Kita tahu bahwa kita harus rendah hati, tetapi sulit menerima teguran.

Karena itu, kita membutuhkan firman Tuhan yang terus mengingatkan dan membentuk kehidupan kita.

Kita juga membutuhkan persekutuan yang sehat, saudara seiman yang berani menasihati dengan kasih, dan kerendahan hati untuk menerima koreksi.

Jangan merasa bahwa karena kita sudah lama menjadi orang Kristen, kita tidak perlu lagi belajar.

Jangan merasa bahwa karena kita sudah lama melayani, kita tidak perlu lagi memperbaiki diri.

Pertumbuhan rohani adalah proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Kita masih perlu belajar menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, lebih jujur, dan lebih mengasihi.

Kita masih perlu belajar mengakui kesalahan.

Kita masih perlu belajar membedakan antara mempertahankan kebenaran dan mempertahankan ego.

Kita masih perlu belajar bahwa melayani tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan.

Saudara pendengar, ada satu hal lagi yang perlu kita pikirkan.

Pelayanan kita bukan hanya tentang apa yang kita lakukan hari ini. Pelayanan kita juga tentang teladan yang kita tinggalkan bagi orang lain.

Sebagai orang tua, apakah anak-anak kita melihat iman yang nyata melalui kehidupan kita?

Sebagai pemimpin, apakah orang-orang yang kita pimpin belajar tentang kerendahan hati dan tanggung jawab?

Sebagai pelayan Tuhan, apakah jemaat merasakan perhatian dan kasih melalui cara kita memperlakukan mereka?

Kita tidak harus menjadi manusia yang sempurna untuk memberikan teladan. Namun, kita harus bersedia menjalani proses pembentukan dan mengakui ketika kita melakukan kesalahan.

Teladan yang baik bukan berarti tidak pernah jatuh. Teladan yang baik terlihat ketika seseorang bersedia bangkit, bertobat, memperbaiki diri, dan terus berpegang pada kebenaran Tuhan.

Selama Tuhan masih memberikan kesempatan, marilah kita menggunakan waktu dengan bijaksana.

Jangan menunda meminta maaf jika kita bersalah.

Jangan menunda melakukan kebaikan ketika kita mampu menolong.

Jangan menunda memperbaiki hubungan yang masih dapat dipulihkan.

Dan jangan menunda membangun kehidupan rohani hanya karena kita merasa terlalu sibuk.

Kita tidak mengetahui berapa lama kesempatan yang masih kita miliki. Namun, kita dapat memilih untuk menggunakan hari ini dengan lebih baik.

PENUTUP — APAKAH KITA SUNGGUH-SUNGGUH MENJAWAB PANGGILAN TUHAN?

Sekarang, mari kita kembali kepada pertanyaan utama dalam renungan ini.

Apakah kita sungguh-sungguh menjalani panggilan Tuhan?

Mungkin selama ini kita sudah aktif dalam pelayanan. Mungkin kita sudah melakukan banyak hal untuk gereja dan sesama. Namun, firman Tuhan tetap mengajak kita memeriksa hati.

Apakah pelayanan kita berpusat pada Tuhan atau pada kepentingan diri sendiri?

Apakah iman kita menghasilkan perubahan karakter?

Apakah kita bersedia menaati Tuhan ketika ketaatan itu menuntut pengorbanan?

Apakah kehadiran kita membawa penguatan bagi orang lain?

Kita tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan berpura-pura bahwa semuanya sudah baik.

Kita boleh mengakui bahwa kita masih memiliki kelemahan. Kita boleh mengakui bahwa ada bagian dari kehidupan kita yang perlu diperbaiki.

Yang penting, jangan berhenti bertumbuh.

Jika kita pernah gagal, datanglah kembali kepada Tuhan.

Jika kita kehilangan semangat, mintalah kekuatan-Nya.

Jika kita telah menyakiti orang lain, belajarlah meminta maaf.

Jika kita terlalu sibuk mengejar kepentingan sendiri, marilah kita kembali mengarahkan kehidupan kepada tujuan Tuhan.

Pesan dari The Purpose Driven Life mengingatkan kita bahwa kehidupan seharusnya diarahkan kepada tujuan Tuhan.

Pesan dari Radical menantang kita untuk tidak menjadikan kenyamanan sebagai alasan untuk mengabaikan ketaatan kepada Kristus.

Dan firman Tuhan dalam 2 Petrus mengingatkan bahwa panggilan itu harus dijalani dengan sungguh-sungguh, disertai pertumbuhan iman dan buah kehidupan yang nyata.

Ketiganya membawa kita kepada satu kesimpulan.

Kita tidak dipanggil hanya untuk mengaku sebagai orang Kristen. Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan Kristus.

Kita tidak dipanggil hanya untuk memegang jabatan pelayanan. Kita dipanggil untuk melayani dengan kasih dan kesetiaan.

Kita tidak dipanggil hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi. Kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.

Karena itu, mulai hari ini, marilah kita mengambil langkah yang nyata.

Mungkin langkah itu adalah kembali membangun waktu doa dan membaca Alkitab.

Mungkin langkah itu adalah meminta maaf kepada seseorang.

Mungkin langkah itu adalah memperbaiki cara kita menjalankan tanggung jawab.

Mungkin langkah itu adalah kembali melayani dengan hati yang tulus.

Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Mulailah dengan ketaatan yang nyata, satu langkah demi satu langkah.

Sebab, pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa tinggi kedudukan kita, seberapa banyak pujian yang kita terima, atau seberapa besar pekerjaan yang kita lakukan di mata manusia.

Yang terpenting adalah apakah kita tetap setia kepada Tuhan dan apakah kehidupan kita telah menjadi kesaksian tentang kasih-Nya.

Ingatlah pesan firman Tuhan hari ini:

Berusahalah sungguh-sungguh supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.

Tuhan telah memanggil kita.

Marilah kita hidup bagi tujuan-Nya, mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh, dan tetap setia sampai akhir.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mendengarkan renungan ini.

Kiranya firman Tuhan tidak berhenti sebagai sesuatu yang kita dengar, tetapi terus bekerja dalam hati, membentuk karakter, mengarahkan keputusan, dan menuntun langkah kita setiap hari.

Tuhan Yesus memberkati.